Kisah dan Goresan Kenangan di Samarinda

Bentuk Ukiran Serta Tampilan Rumah Adat Lamin Kampong Mancong

Bentuk Ukiran Serta Tampilan Rumah Adat Lamin Kampong Mancong

Tindakan yang dibalut dengan keikhlasan dan niat baik selalu akan menemukan jalannya sendiri.Itu juga yang saya alami saat melakukan pengembaraan selama menuju Samarinda. Perjalanan dimulai dari Malinau ke Tanjung Selor yang saya tempuh menggunakan armada bus umum.

Kebetulan saat itu saya dibantu seorang teman sehingga dengan mulus perjalanan dari Malinau ke Tanjung Selor berhasil dijajaki. Di Tanjung Selor saya sama sekali tak punya kenalan, kerabat atau sahabat. Padahal keinginan kuat untuk menginjakkan kaki ke tujuan berikutnya yaitu Berau.

Tapi saya sama sekali tak punya kenalan. Namun seperti yang saya katakan di awal, selalu ada jalan jika kita melakukan dengan kejujuran. Sebuah tumpangan dari pemilik mobil pribadi akhirnya bisa membawa saya ke Berau. Perjalanan saya tidak akan berhenti di Berau.

Karena saya masih harus mencari cara agar bisa sampai lagi ke Sangata, Bontang atau Samarinda. Namun dengan segala keterbatasan, baik itu waktu maupun biaya, saya harus pasrah hari itu tak lagi bisa melanjutkan perjalanan, apapun upayanya.

Karena memang tak ada lagi kendaraan yang mau memberi tumpangan, wajar karena memang sudah larut malam. Di antara segala keterbatasan itu, yang pertama harus dicari adalah tempat untuk saya berteduh, melepas penat perjalanan sembari beristirahat beberapa saat memejamkan mata.

Salah Seorang Anak Menangkap Ikan Di Danau Jempang Di Kecamatan Tanjung Isui

Salah Seorang Anak Menangkap Ikan Di Danau Jempang Di Kecamatan Tanjung Isui

Sebuah mesjid yang masih terbuka tidak jauh dari lokasi saya turun jadi satu-satunya kemungkinan terbaik. Setelah meminta izin dari penjaga mesjid malam itu saya bermalam di mesjid, dan kebetulan dengan baik hatinya penjaga mesjid tersebut memberikan kamarnya untuk saya beristirahat. 

“Tidur di dalam kamar saja. Di luar terlalu berbahaya,” kata bapak penjaga mesjid itu. Paginya, subuh sekali saya sudah pamit kepada bapak penjaga mesjid untuk melanjutkan perjalanan saya sambil mengucapkan terimakasih tak terhingga sudah diizinkan menginap. 

Saya harus tiba di Samarinda! Itulah tekad hari itu. Tak segampang yang saya perkirakan karena butuh 5 jam bagi saya untuk meyakinkan sopir truk ekspedisi agar bisa memberi saya tumpangan. Adalah Anto, sopir yang baik hati dan percaya dengan saya, dia pria asli Berau.

Kisah perjalanan saya dengan Pak Anto sangat sayang untuk tidak saya bagi. Selama perjalanan kami bertukar cerita. Beberapa kali juga kami beristirahat sekedar ngopi dan mengisi perut di warung-warung pinggir jalan. “Sangat tidak mungkin kita memaksa lanjut ke Sangata.

Proses Pengambilan Tulang Merupakan Tradisi Yang Dimiliki Suku Dayak Kampong Mancong Yang Disaksikan Seluruh Keluarga.

Proses Pengambilan Tulang Merupakan Tradisi Yang Dimiliki Suku Dayak Kampong Mancong Yang Disaksikan Seluruh Keluarga.

Daripada kenapa-kenapa kita istirahat saja,” kata Pak Anto. Yang akhirnya diputuskan kami istirahat di pinggir jalan, di salah satu perkebunan sawit. Malam itu dilewati tanpa ada kecurigaan apapun.

Kami berdua nyenyak tertidur, hingga esok siangnya kami harus berpisah karena Samarinda sudah di depan mata. Saya lagi-lagi berterimakasih karena dia telah turut memuluskan langkah saya.

Di Samarinda, seorang teman sudah siap menunggu kedatangan saya. Namun, sebelum bertemu ada keinginan besar untuk terlebih dahulu menikmat Samarinda barang sesaat.

Di antara perjalanan mengeliling beberapa wilayah di Samarinda saya dipertemukan sepasang backpacker. Masih muda-muda. “Mas, backpacker?,” tanya muda-mudi itu.“Iya,” jawab saya. “Mau ke mana?,” tanya mereka lagi. “Lagi nunggu teman nih, jadi saya berkeliling di sini-sini saja,” jawab saya lagi. 

Setelah Proses Pengambilan Tulang Dilakukan Proses Pembersihan Tulang. Ini Merupakan Tradisi Yang Dimiliki Suku Dayak Yang Disaksikan Seluruh Keluarga Di Kampong Mancong

Setelah Proses Pengambilan Tulang Dilakukan Proses Pembersihan Tulang. Ini Merupakan Tradisi Yang Dimiliki Suku Dayak Yang Disaksikan Seluruh Keluarga Di Kampong Mancong

Lalu tanpa diduga, mereka berdua menawarkan saya untuk makan bersama di mobil. Kisah manis saya di Samarinda ditutup dengan jamuan makan dadakan dari sepasang kekasih yang menghargai seorang pengembara seperti saya.

Saya ditraktir sepiring nasi goreng, lalu kami bertukar nomor telpon, namanya Rizki. Setelah berpisah sekitar jam 9 malam dengan sepasang backpacker itu, teman yang sudah menunggu mengabari lewat pesan singkat.

Dan siap untuk melanjutkan apa yang direncanakan esok hari. Samarinda, bagi saya adalah salah satu nama tempat yang pernah saya datangi, yang mempunyai kenangan luar biasa untuk sebuah perjalanan hidup.

Usai bagaimana cerita saya dipertemukan dengan sopir truk ekspedisi yang berbaik hati memberikan tumpangan tanpa embel-embel curiga, penjaga mesjid yang baik hati memberikan kamarnya, hingga sepasang backaper yang tanpa sungkan minta bagi pengalaman.

Dan puncaknya, bagaimana seorang sahabat lama memberikan rasa persaudaraan yang luar biasa. Walaupun terpisah belasan tahun. Malam sudah larut saat teman semasa sekolah di tanah kelahiran kami, Kota Koba (Bangka Belitung) datang. Dia datang dengan mobil Innova.

Salah Satu Bentuk Ukiran Serta Tampilan Rumah Adat Lamin Kampong Mancong

Salah Satu Bentuk Ukiran Serta Tampilan Rumah Adat Lamin Kampong Mancong

Sejatinya kami akan menuju ke rumah sanak famili. Namun malam itu ia putuskan kami harus menginap terlebih dahulu di rumahnya, di Samarinda. Paginya, setelah kami menyantap sarapan yang disiapkan istrinya, kami saling bertukar kisah.

Wajar bernostalgia karena terpisah belasan tahun. Dia memilih tinggal di Samarinda setelah mempersunting gadis sana. Siang hari sekitar jam 2 waktu Indonesia Tengah kami berangkat menuju daerah yang namanya Kem Baru.

Tempat itu memang sudah dijanjikan untuk didatangi. Perjalanan ke sana harus ditempuh 6 jam lebih. Namun perjalanan sepanjang itu memang sudah menjadi makanan. Perjalanan darat ribuan kilometer sudah tertempuh, apalagi hanya 6 jam.

Saya menikmati perjalanan itu, karena di tahun 2009 saya pernah datang ke sini dan melewati jalan yang sama yang sekarang saya tempuh. Selama berada di Samarinda dan ditemani sahabat saya, ada beberapa hal yang membuat saya tertarik karena keberagaman budaya dan ikoniknya sebuah daerah.

Salah Satu Bentuk Ukiran Serta Tampilan Rumah Adat Lamin Kampong Mancong Kalimantan Timur

Salah Satu Bentuk Ukiran Serta Tampilan Rumah Adat Lamin Kampong Mancong Kalimantan Timur

Seperti ada sebuah danau namanya Jempang di Kecamatan Tanjung Isui. Justru, daya tarik danau ini bukan airnya, tapi bagaimana aktifitas masyarakat di sana menangkap ikan di danau menggunakan tangan kosong!

Lalu hal lain di sana yang memantik rasa kagum adalah Lamin, rumah adat dayak di wilayah Isui. Rumah itu berbeda dengan rumah Dayak lainnya seperti Dayak Kenya. Lamin lebih berwarna.

Begitu juga seperti Dayak Benuag, pahatannya tidak diberi warna. Di Lamin terdapat beberapa kamar untuk ditinggali. Namun tidak sembarang orang yang dapat hak tinggal di Lamin, kecuali anda adalah keturunan kepala adat.

Selain itu, anda tidak berhak untuk tinggal di Lamin. Itu sebuah pengetahuan yang mahal bagi saya. Di Isui juga ada kampung yang bernama Mancong. Di situ saya menyaksikan sendiri sebuah tradisi penggalian kubur leluhur, yang mana prosesinya adalah mengambil tulang-belulang yang kemudian dicuci bersih, kemudian dimasukkan ke peti kecil.

Keluarga Kawan Saya Udin Beserta Istri Dan Anaknya Yang Sekarang Berdomisili Di Kalimantan Dan Menikah Disana

Keluarga Kawan Saya Udin Beserta Istri Dan Anaknya Yang Sekarang Berdomisili Di Kalimantan Dan Menikah Disana

Dan peti kecil itu dipindahkan ke tenggarong oleh pihak keluarga. Cukup beruntung dalam sehari saya mendapat potret indah Samarinda yang tidak semua orang bisa merasakan.

 

 

 

Penulis, Photographer : Mahendra Moonstar

Editor : Eka Mahendra Putra