Mengangkat Aspal demi Melanjutkan Hidup

Berpose Bersama Mas Anto Di Depan Truck Ekspedisi Miliknya. Mas Anto Yang Baik Hati Menumpangi Saya Di Truck Ekspedisinya Dari Berau Menuju Samarinda

Berpose Bersama Mas Anto Di Depan Truck Ekspedisi Miliknya. Mas Anto Yang Baik Hati Menumpangi Saya Di Truck Ekspedisinya Dari Berau Menuju Samarinda

Sebuah ungkapan tua yang menyebut bahwa alam luas adalah tempat belajar terbaik bagi hidup sangat saya rasakan selama melakukan pengembaraan terutama di Pontianak. Tanah yang memberi semangat berbeda.

Perjalanan saya ke Pontianak memang lebih lancar dibandingkan dengan perjalanan di tempat lain. Dari Samarinda saya menginjakkan kaki terlebih dahulu ke Pangkalanbun sebelum ke Pontianak.

Pangkalanbun ke Pontianak sendiri sekarang sudah istimewa. Karena menurut sopir truk yang saya tumpangi, dahulu dari lokasi mereka untuk sampai ke Pontianak bisa memakan waktu berhari-hari.

Namun sekarang cukup 14 jam hingga kami sampai ke lokasi penyeberangan di Tayan sebagai syarat menyeberang ke Pontianak. Selama di Pontianak saya berterimakasih kepada senior saya semasa kuliah, Lae Jotty namanya yang mau menampung.

Salah Satu Yang Unik Adalah Kopi Asiang Di Jalan Merapi, Pontianak. Kopi Asiang. Unik, Karena Penjualnya Tanpa Baju, Hanya Pake Celana Pendek

Salah Satu Yang Unik Adalah Kopi Asiang Di Jalan Merapi, Pontianak. Kopi Asiang. Unik, Karena Penjualnya Tanpa Baju, Hanya Pake Celana Pendek

Di Pontianak saya tidak sendiri. Ada sahabat, dara asal Kalimantan Barat keturunan Batak, Berti Sitompul, yang juga mengenalkan saya dengan beberapa sahabat yang tinggal di Bandara Sipadio, Angga, Edwin dan Timbil.

Berti adalah mata dan telinga saya selama di Pontianak yang benar-benar memberikan suguhan asli Pontianak hingga mencicipi makanan yang asing di telinga awam. Hingga terpuaskan dengan melihat Sungai Kapuas di malam hari.

Di Pontianak saya tertarik dengan yang namanya Bukit Jamur di wilayah Bengkayang. Jika melihat di internet bukit ini sangat menarik minat. Sayangnya, nasib kurang mujur harus saya terima karena hari di mana saya naik ke bukit, sedang diselimuti kabut tebal. Saya kecewa.

Di awal, saya sempat menyebutkan bahwa alam adalah tempat belajar terbaik yang disediakan Tuhan. Itu bukan omong kosong. Sebagai seorang pengembara saya menuntut diri untuk melakukan perjalanan dengan bekal yang seadanya untuk terus bisa makan dan melanjutkan perjalanan.

Ibu Lucia Yang Merupakan Salah Seorang Yang Baik Hati Selama Bekerja Aspal. Saya Hanya Membawa Nasi Putih Ibu Lucia Selalu Membawa Lauknya Dan Memasak Untuk Saya

Ibu Lucia Yang Merupakan Salah Seorang Yang Baik Hati Selama Bekerja Aspal. Saya Hanya Membawa Nasi Putih Ibu Lucia Selalu Membawa Lauknya Dan Memasak Untuk Saya

Walaupun saat itu saya punya ‘sponsor’. Di Pontianak ini, ijazah tak lagi berlaku bagi saya. Karena tak mau menjadi peminta belas kasih orang saya berusaha mencari jalan keluar sendiri. Mencari pekerjaan, apapun itu, asal halal dan mendapat upah langsung.

Ya. Akhirnya saya mendapat pekerjaan sebagai pengangkut aspal di pembangunan Bandara Supadio. Sebuah pekerjaan yang menurut sebagian orang sebagai sarjana sangat tidak masuk akal.

Aspal panas harus saya angkat demi melanjutkan hidup. Saya setiap hari selama mengerjakan proyek pengangkatan aspal selalu bercengkarama dengan pekerja-pekerja lain.

Saya tanpa malu menceritakan kepada buruh lainnya, saya adalah perantauan yang memang mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Selama 5 hari kerja plus lembur selama 7 jam, saya mendapat upah Rp 550.000, yang langsung alokasi untuk membeli tiket kapal menuju Pulau Kijang Tanjung Pinang.

Edwin Dan Timbil Merupakan Teman Yang Mengijinkan Menampung Saya Selama Bekerja Aspal Di Mess Bandara Supadio Pontianak

Edwin Dan Timbil Merupakan Teman Yang Mengijinkan Menampung Saya Selama Bekerja Aspal Di Mess Bandara Supadio Pontianak

Saya bersyukur selama di Pontianak, terlebih di sini saya sempat beribadah di salah satu gereja. Di mana selama mengembara, itu adalah ibadat saya yang ke-empat karena keterbatasan dan juga saya akui bukanlah seseorang yang relijius.

Penulis, Photographer : Mahendra Moonstar

Editor : Eka Mahendra Putra