Pemandangan dari Puncak Rinjani

Surga Itu Bernama Rinjani

Salah Satu Air Tempat Mandi di Pagi Hari Dengan Rasa Panas Dan Dingin Menjadi Satu Disini.

Salah Satu Air Tempat Mandi di Pagi Hari Dengan Rasa Panas Dan Dingin Menjadi Satu Disini.

8 April, Halo, apa kabar sahabat pengembara! Sudah berapa lama kita tidak bersua dalam baris-baris tulisan yang menandakan cerita dan kisah pengembaraan saya. Kali ini, saya menepati janji untuk membagi cerita perjalanan soal keindahan luar biasa Indonesia yang terekam dalam coretan sederhana dan potret kamera setia saya.

Hari ini, 8 April 2016 sekitar jam 4 waktu Indonesia bagian Timur, tubuh lusuh ini bersama sebuah kapal angkutan sampai juga di pelabuhan Lembar Lombok, suasana masih terlalu pagi, dinginnya masih menusuk tulang.

Orang-orang masih terlihat sepi beraktifitas, satu-dua kendaraan lalu lalang turun dan angkut barang, perlahan-lahan roda kehidupan di pelabuhan itu mulai terasa, namun, tetap saja, jam masih 4 pagi, itu masih terlalu dini dan masih banyak waktu bagi saya untuk memikirkan bagaimana cara bisa ke terminal Mandalika.

Ke terminal Mandalika, cara yang harus saya tempuh adalah menumpang mobil apa saja, baik itu truk, pikap atau sejenisnya, terserah apapun itu yang pasti saya harus mencari cara supaya sampai, bahkan walaupun harus berdesak-desakan dengan sayuran basah di mobil, yang penting; sampai tujuan.

Tapi, karena masih terlalu pagi, saya harus bersabar menunggu matahari agak sedikit meninggi di Lombok dan terminal ‘hidup’. Beruntung saya bisa mendapat tumpangan di salah satu truk yang menjanjikan tumpangan ke tempat tujuan.

Tapi, berhubung masih terlalu pagi saya meminta izin untuk sekedar meluruskan kaki dan tidur sebentar setidaknya sampai pukul 06.00 di mobil itu. Singkat cerita jam 6 pagi saya sampai ke terminal dan langsung mencari mobil lagi yang mengarahkan perjalanan saya ke Aikmel, dan saya membayar Rp 20 ribu untuk ongkos.

Dari situ saya langsung bergerak ke Sembalun, sebuah pos pendakian, dan lagi-lagi ke sana harus pakai angkot, kali ini ongkosnya Rp 30 ribu. Sekitar tengah hari saya tiba di pos pendakian. Barang-barang saya titipkan dengan membayar tiket Rp 15 ribu. Nah, di pos itu, saya berjodoh dengan 2 pria dari Jogja yang sama niatnya dengan saya mendaki gunug Rinjani.

Salah Satu Pemandangan Air Hangat Ketika Jalur Turun Melalui Torean

Salah Satu Pemandangan Air Hangat Ketika Jalur Turun Melalui Torean

Saya salut dengan kedua orang itu, mereka punya fisik yang membuat saya kagum, bagaimana tidak, dari Jogja sampai ke kaki Rinjani ini mereka menggunakan sepeda motor.

Sebelum kami memutuskan naik ke Rinjani, kami sedikit berbincang-bincang, berkenalan satu sama lain hingga kami saling berbincang soal bagi-bagi makanan.

Lumayan, kami bisa sharing bawaan, dan bagi saya setidaknya punya teman seperjalanan, jadi rasa kekhawatiran saya mendaki sendiri untuk sementara bisa hilang.

Akhirnya, kami memutuskan untuk mendaki walaupun sedikit diliputi rasa was-was, terlebih saya, yang mendaki hanya dengan peralatan seadanya, bukan seperti mereka yang memang khusus datang untuk mendaki dengan persiapan yang maksimal.

Sedangkan saya, peralatan safety seadanya, maklum, dengan jejak perjalanan saya dari satu tempat ke tempat lain tidak mungkin saya harus menenteng peralatan-peralatan mendaki yang khusus.

Bahkan untuk baju saja saya hanya punya beberapa potong, yang lainnya, peralatan bertahan hidup saja. “Saya harus ikut mereka,” itu kata saya dalam hati. Tak berapa lama kami memulai pendakian akhirnya tibalah di pos 3 dengan kondisi sangat lelah.

Salah satu teman dari Jogja memang terlihat lebih lelah dari kami, dan diakuinya, dia punya fisik yang tak sehebat kami makanya dia gampang lelah namun, mimpi untuk mendaki Rinjani-lah yang membuat dia bertahan dan terus memaksakan batas fisiknya supaya mimpi itu bisa dia gapai, saya salut dengan perjuangan teman ini.

Malamnya, kami memilih tidur beratapkan langit Rinjani dan hanya mengunyah coklat untuk mengusir lapar. Malam itu, langit Rinjai sangat cantik, hamparan bintang dan laguna cahaya bulan yang malu-malu memaksa kami untuk tertidur karena kelelahan.

Tapi di antara kelelahan itu sambil menatap langit saya menghaturkan terimakasih kepada Tuhan, akhirnya saya bisa menikmat langit Rinjani yang dulu hanya ada dalam angan-angan.

“Tanpa nasi lagi hari ini,” sebut saya pelan sambil menutup mata. 9 April, Pagi sekali kami bertiga sudah terbangun dan mempersiapkan segala sesuatu untuk melanjutkan pendakian, dan berharap secepatnya sampai ke Plawangan, tempat di mana para pendaki mendirikan tenda serta sebuah ‘tradisi’ summit attack.

Style Awal Pendakian Menuju Puncak Rinjani

Style Awal Pendakian Menuju Puncak Rinjani

Sayangnya, saya harus berpisah dengan dua teman dari Jogja, karena kondisi fisik salah satu teman itu tidak bisa dipaksakan untuk lincah maka saya meminta izin untuk lebih dahulu melanjutkan perjalan, bukan karena saya tidak mau bersama-sama, tapi jika saya harus ikut mereka maka waktu saya akan terbuang.

Akhirnya saya melanjutkan perjalanan seorang diri sambil berharap Tuhan tetap ada di samping menjaga saya. Ini Rinjai loh, wajar saya berdoa seperti itu, karena pengembara juga manusia, punya rasa takut dan khawatir.

Jujur saja, terutama bagi para pendaki yang sudah menginjakkan kakinya ke Rinjai pasti paham dengan tanjakan penyesalan. Karena di tanjakan ini adalah tanjakan yang sangat berat, ngos-ngosan, yang membuat saya harus ‘mengalah’ dan memilih beristirahat di tanjakan penyesalan.

Dari namanya juga sudah ‘penyesalan’, sangat pantas diberi nama begitu karena bisa-bisa jika mental tidak kuat maka akan stop sampai di situ. Di sela-sela istirahat saya ngumpul nyawa, ada seorang pria dari Bali, Bejah namanya menyapa dan bertanya saya ikut rombongan mana.

Saat saya bilang saya sendiri, Bejah mengernyitkan jidatnya heran, mungkin dalam hatinya merasa aneh saja ada orang yang mau daki Rinjani sendiri tanpa rombongan, mungkin dia pikir apa gak takut mati sendiri ini orang?

Lalu saya ceritalah bahwa sebetulnya ada 2 teman lagi, tapi harus berpisah karena salah satu dari mereka kondisi fisiknya tidak terlalu kuat untuk dipaksakan mendaki dengan cara cepat dan lincah, yang artinya akan memakan waktu saya lebih lama.

Ternyata Bejah ini ada rombongannya, karena tidak lama datang 4 pria lainnya di belakang Bejah, dan, beruntungnya saya, ada lagi 4 jajaka Bandung yang ikut dari belakang.

Setelah tahu rute kami sama, saya seperti dapat berkah ada rombongan yang bisa saya ikuti, saya tertarik dan langsung bergabung dengan mereka menanjak ke Plawangan.

Sekitar pukul 16.00 WITA kami tiba di Plawangan mendirikan tenda bersama dan mereka sibuk memasak untuk makan malam. Kemudian 1 jam berselang datanglah 2 orang anak Jogja tadi.

Malam itu kami berbincang ditemani kopi hangat hingga memutuskan tidur karena subuh harus jalan ke puncak Rinjani. Selamat malam (lagi) langit Rinjai.

Salah Satu View Danau Segara Anak Rinjani Ketika Pagi Hari

Salah Satu View Danau Segara Anak Rinjani Ketika Pagi Hari

10 April, Dinihari sekali kami sudah bangun untuk mempersiapkan segala sesuatu yang besar, yaitu pendakian ke Rinjai. Sekitar pukul 1 dinihari kami sudah siap-siap, dan mie instan menjadi sarapan kami, semua ikut sarapan termasuk 2 teman dari Jogja, mereka juga kepingin ikut summit attack.

Sebagai umat Tuhan, dan berada di sebuah tempat yang maha asing serta penuh dengan misteri kami tak lupa memanjatkan doa keselamatan, yang doa itu dipimpin Bayu, sepuh dari 4 orang jajaka Bandung, karena kami sangat butuh perlindungan Tuhan untuk mendaki Rinjai dalam ketinggian 3.726 Mdpl.

Rinjai, adalah salah satu spot pendaikan yang didambakan semua pecinta alam, alur spotnya yang menanjak, menurun dan berliku drastis serta ekstrim akan membuat tubuh cepat lelah dan konsentrasipun bakal terpecah.

Bahkan jika tak kuat fisik dan mental–silakan tanya ke yang pernah dan berpengalaman mendaki Rinjai, pasti semua satu suara dengan saya, Rinjai tetaplah Rinjai yang ‘menawarkan’ keputusasaan jika tak benar-benar punya fisik dan mental yang siap.

Saya sendiri, walaupun kondisi fisik masih terbilang lumayan, tetap saja merasa kesulitan, apalagi basic saya sendiri bukanlah pendaki gunung murni, sehingga saat mencoba menjajaki Rinjani ini, banyak lokasi yang saya kurang memahami cara menaklukannya.

Tanjakan-tanjakan Rinjani tidaklah gampang karena jalanan berpasir sehingga ketika kita melangkah satu langkah yang tidak sempurna, maka kita akan merosot beberapa centimeter karena tanah berpasir tidak kuat untuk pijakan, artinya, kita harus menambah fisik lagi untuk melangkah, begitu seterusnya sampai kita lelah.

Bahkan, saking capeknya, dan nyaris putus asa, saya sempat tertidur, entah apakah itu namanya tertidur atau menyerah, yang jelas antara sadar dan tidak sadar itu teman satu rombongan langsung menampar pipi saya supaya saya tetap sadar.

“Bangun! Kamu gak boleh tertidur, nanti hypo,” kata teman yang menampar wajah saya. Sungguh, sungguh saya sangat beruntung bisa mendaki bersama mereka, bahkan saya seperti layaknya bayi yang terus didampingi oleh rombongan ini untuk terus dikawal sampai ke puncak.

Mereka terus menyemangati saya. Kalau bicara kondisi fisik dan mental jujur saja, saat itu saya sudah tak sanggup lagi. Bahkan, saking tak kuat lagi, saya terpaksa meminta teman rombongan, Mando untuk membawa tas kamera biar saya bisa sampai puncak dengan tidak membuat rekan-rekan repot kalau saja saya pingsan.

Jujur, inilah pendakian terberat saya, semua perjalanan yang saya lewati selama ini mungkin hanya membuat saya berinteraksi dengan sesama manusia, dan kemungkinan berhasil 80%. Sedangkan kali ini, saya berhadapan dengan alam, saya, atau alam yang menang.

Foto Bersama Dengan 4 Mojang Bandung dan Bejah Yang Menjadi Pemandu Untuk Mendaki

Foto Bersama Dengan 4 Mojang Bandung dan Bejah Yang Menjadi Pemandu Untuk Mendaki

Terimakasih Tuhan! Akhirnya dengan penuh sejuta perjuangan kami sampai juga di puncak Rinjadi dengan pendakian 5 jam lebih 30 menit, yang artinya kami telat 30 menit dari waktu normal pendakian.

Mungkin 30 menit itu gara-gara saya yang harus dijaga ekstra, hahaha. Setelah sampai  di situ, sinar merah cakrawala muncul dari timur memperlihatkan keindahanya, seakan mengatakan selamat datang kepada kami.

Luar biasa! Hanya kalimat itu yang bisa saya ucapkan dari mulut, kita tak akan pernah bisa memahami seutuhnya bagaimana keindahan dari puncak Rinjani jika tak pernah datang ke sini.

Semua begitu indah, kelelahan dan turunnya mental selama perjalanan seakan terbayar tuntas. Rinjani adalah salah satu cita-cita saya, dan sekarang, dia sudah saya taklukkan, tak satu jengkal keindahan di situ yang tidak saya abadikan dengan potret, oh Rinjani, cita-cita ini akhirnya terbayar lunas!.

Ketika matahari mulai naik muncul terlihat sebelah kanan danau Segara, anak beserta gunung di tengahnya membuat saya lebih terperangah, demi Tuhan, tidak ada kalimat yang bisa saya gambarkan untuk keindahan ini.

Tak lama setelah menikmati keindahan Rinjani, saya memutuskan untuk turun lebih awal dibanding teman-teman dari Bandung. Sampai pos kira-kira pukul 09.00 WITA dan menceritakan semua pengalaman saya kepada Bejah, teman dari Bali itu.

Saya menceritakan bagaimana beruntungnya saya sebagai manusia, mampu menikmat puncak Rinjani, sebuah cita-cita yang saya idamkan sejak lama.

Sekitar pukul 11.00 WITA teman-teman dari Bandung sampai ke pos, dan kami langsung santap siang bersama kemudian membereskan tenda dan memutuskan untuk turun ke danau Segara Anak dan kamping di situ.

Capek tak menjadi halangan saya untuk memaksakan diri melihat keindahan danau Segara Anak, yang perjalanannya kami lakukan sekitar pukul 02.00 WITA.

Lagi-lagi, perjalanan ke sana tidak lebih gampang dari pendakian awal, jalan yang dipenuhi bebatuan licin yang dijadikan pijakan, terkadang membuat terpeleset dan jika tak berhati-hati, kita pasti akan cidera, dan membuat keinginan ke danau harus  dipupus dalam-dalam.

Pemandangan Eidelweis di Sepanjang Jalan Menuju Puncak Rinjani

Pemandangan Eidelweis di Sepanjang Jalan Menuju Puncak Rinjani

Tapi saya suka dengan turunan, terkadang saya berlari kecil untuk turun menuju Segara Anak. Kami tiba disana pukul 17.30 WITA dan langsung mengambil pancing ada yang mendirikan tenda. Soalnya danau Segara Anak terkenal dengan ikan mas dan mujair sehingga malam ini rencana makan ikan.

Maklum 2 hari ini perut kami cuma diisi mie instan, sosis instan dan ikan kaleng, bolehlah kiranya kali ini kami makan yang segar-segar. Memancing Tidak sulit disini untuk mendapatkan ikan mujair dan ikan mas, cukup umpan saja pakai pelet serta sosis sudah jaminan kita dapat ikan walaupun ikan kecil.

Ketika malam datang, kami mulai membagikan tugas, ada yang menggoreng ikan, sedangkan saya memasak nasi. Bermodalkan plastik besar, di situlah kami menebar nasi dan ikan, lalu menikmati semuanya bersama-sama di tengah malam yang syahdu di danau.

Ah, nikmatnya. 11 April, Bangun pagi dengan mata langsung menuju danau Segara Anak cukup membuat hati tenang. Beberapa dari kami melakukan aktifitas seperti memancing dan ada beberapa yang berjalan-jalan melihat sekeliling.

Mhado Berpose di Puncak Gunung Rinjani

Mhado Berpose di Puncak Gunung Rinjani(sumber : dok.pri)

Kalau saya, memilih menyeduh kopi dan duduk santai di depan tenda menikmat alunan nada-nada yang dimainkan oleh alam Rinjani. Kemudian 4 jajaka Bandung bangun sempat bercerita akhirnya kita memutuskan mandi di air panas karena hampir 2 hari tidak mandi dan sayapun ingin keramas di sana.

Berjalan sekitar 15 menit kita melihat keindahan air terjun dan pemandangan sekitar luar biasa, bikin tangan saya gatel untuk memotret keindahan itu, yang bikin saya nyaris lupa bahwa sebetulnya ke situ niatnya mau mandi dan keramas.

Oiya, air terjun ini tidaklah dingin karena bercampur dengan hangatnya air belerang dan baunya pun tidak keras seperti air belerang umumnya karena sudah bercampur dengan air gunung.

Hanya saya dan 4 jajaka Bandung menikmati tempat ini karena masih terlalu pagi buat orang-orang untuk mandi. Tibalah waktunya kami harus berkemas, dan bersiap pulang ke tenda untuk memasak beres-beres turun lewat jalur Torean.

Namun, informasinya bahwa jalur yang akan kami tempuh, yaitu Torean adalah jalur yang sangat ekstrim. Tapi karena saya sudah kepalang bersama dengan 4 teman dari Bandung ini, maka mau tidak mau seekstrim apapun jalan itu harus saya tempuh.

Apalagi, jalur ini adalah jalur seribu view dan tak henti-hentinya memotret, dan saya memutuskan tetap ikut mereka lewat jalur Torean. Pukul 13.30 WIB perjalanan dimulai dengan  berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.

Salah Satu View Danau Segara Anak Gunung Rinjani

Salah Satu View Danau Segara Anak Gunung Rinjani

Perjalanan pertama melihat savana tetap indah walaupun ditutupi kabut. Sejam dari situ kami singgah di goa susu, goa itu punya air yang hangat, kita bisa berendam di situ. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali melihat keindahan air terjun.

Selama perjalanan saya tak henti-hentinya berdecak kagum, saya seperti anak kecil yang baru mendapat mainan, saya seperti orang udik, yang selalu kagum dengan apapun yang saya lihat dan saya lewati.

Saya merasa sangat kecil di hadapan alam seperti ini, semua kesombongan, keserakahan dan semua ego pasti akan luntur tiba-tiba di sini, karena tak ada lagi tempat seperti ini yang bisa membuat kita sanksi akan kekuatan Tuhan menciptakan alam.

Ketika hampir setengah perjalanan mulai tampak jalur yang benar-benar ekstrim, ketika kami meniti jalur tebing dan kami harus memegang dinding berhati-hati, karena apabila kita terjatuh kita akan langsung terjun bebas ke bawah.

Jalur ini kabarnya tak jarang memakan korban. Sepanjang perjalanan, banyak spot yang memaksa adrenalin kita terpacu, seperti saat menyeberangi sungai dengan arus yang deras. Bejah mengatakan tak ada jalur yang mudah di Rinjai sambil tersenyum penuh makna.

Bejah ini sepertinya orang yang sangat paham dengan Rinjai, buktinya semua perkiraan dia selalu tepat, bahkan, berapa waktu yang akan kami tempuh pun pas dengan apa yang sudah ia perkirakan.

Dicky Berpose di Puncak Gunung Rinjani

Dicky Berpose di Puncak Gunung Rinjani(sumber : dok.pri)

Saya berpikir, pasti Bejah ini sudah lama menguasai Rinjai. Target pukul 20.00 WITA kita harus sampai di pos pendakian Torean. Langkah demi langkah mulai dikayuh jam sudah menunjuk pukul 19.00 WITA.

Salah satu personil jajaka Bandung mulai kelelahan sehingga perjalanan tertunda. Dia meminta untuk istirahat. Setelah beberapa jam dia istirahat perjalanan dilanjutkan kembali dengan hal sama, dia mulai merasa kecapean dan kali ini dengan kondisi air habis.

Untuk mencapai air membutuhkan waktu setengah jam sehingga harus memaksakan untuk sampai di sana Tiba di sana pukul 20.30 WIB, kita memasak air hangat. Tapi makanan kami sama sekali habis, hanya tersisa jelly yang bisa kami bikin agar-agar, yah, hanya jelly itulah senjata kami kuat untuk melanjutkan perjalanan.

Hitungannya kami 3 jam beristirahat di hutan. 12 April, Pukul 00.00 WITA kita melanjutkan perjalanan dari istirahat beberapa jam di hutan. Target untuk sampai pukul 20.00/WITA kandas akibat kurang perhitungan dan memang jalurnya sangat menguras energi dan kita kekurangan ransum.

Setelah memulai perjalanan lagi kali ini satu jajaka Bandung lainnya mulai kelelahan sehingga tas besarnya diangkat oleh Bejah. Dengan kondisi seperti itu, perjalanan mau tak mau harus tetap dilakukan, walaupun setapak demi setapak.

Ketika Sunrise Diatas Puncak Gunung Rinjani

Ketika Sunrise Diatas Puncak Gunung Rinjani

Karena di antara kami ada yang sudah kelelahan dan jika dipaksa untuk cepat, akan menjadi sebuah masalah besar. Hingga akhirnya dipaksakan sampai di salah satu kebun jagung masyarakat, puji Tuhan, itu adalah tanda bahwa kami sudah dekat, sementara energi di tubuh ini sudah nyaris habis.

Tergeletaklah kami di pondok kebun itu sampai pukul 04.00 WITA. Akhirnya Bejah pria Lombok ini berkata. “Jangan pernah meremehkan gunung dari ketinggian karena semua gunung karakternya berbeda,” itu kata-kata Bejah melihat kami semua sudah dalam keadaan tak berdaya akibat kelelahan.

Pengalaman dia membawa orang banyak yang merasa bahwa gunung Rinjani sama dengan gunung lainya. Ada pria yang merasa bahwa dinginnya semeru sama dengan Rinjani sehingga dia memutuskan hanya pakai kaos tanpa lengan, alhasil tidak sampai puncak dia harus digotong kembali ke tenda.

Hendaklah kita datang ke gunung hanya niat untuk menikmati keindahanya bukan merasa membandingkan bahwa gunung ekstrem hanya dinilai dari ketinggian. Bangun pagi kita langsung menuju ke pos pendakian, sekitar hampir satu jam berjalan tiba di sana langsung memesan nasi goreng dan teh hangat, lumayan untuk mengisi energi dan akhirnya tidur di sana.

Ibhon Berpose di Puncak Gunung Rinjani

Ibhon Berpose di Puncak Gunung Rinjani(sumber : dok.pri)

Sekedar informasi, jika mau melewati jalur Torean sebaiknya berpikirlah dua kali, bukan hanya karena jalurnya yang sangat ekstrim, tapi juga kalau sudah sampai di Torean, kita akan kesulitan mencari angkutan umum untuk ke kota.

Jikapun ada, maka kita harus mengeluarkan uang Rp 80 ribu, sedangkan untuk menuju pos Senaru kita dikenakan Rp 200 ribu, mencapai ke Sembalun kita harus membayar Rp 300 ribu.

Terlepas dati itu, saya pribadi sangat berterimakasih kepada keempat jajaka Bandung itu dan Bejah. Tanpa mereka, saya rasa masuk akal bahwa saya tak akan mampu untuk menaklukkan puncak Rinjai seorang diri. Selamat mencoba dan menikmati surga gunung Rinjani. Buktikan jika saya salah. (*)

Penulis, Photographer : Mahendra Moonstar

Editor : Eka Mahendra Putra