Tempuh Perjalanan panjang untuk reunian di bukit tinggi

Seorang petani sedang memilah padinya. Pemandangan sawah dan petani sering dijumpai disekitar Bukit Tinggi

Pagi ini kaki saya tiba di Sibolga, seperti biasa–hidup tak akan indah jika tak dimulai dengan segelas kopi pekat, karena itu adalah strategi saya mencari ide. Nah, pagi ini saya mencari warung kopi yang agak di luar area pelabuhan. Seperti saya bilang, strategi ngopi merupakan langkah awal untuk bergerak,

karena kata orang-orang dari segelas kopi maka dunia akan terbuka dengan sendirinya. Itu yang saya rasakan berulang kali, seperti hari ini di warung kopi saya berbincang dengan seorang bapak yang menyuarakan ke saya bahwa ada cara murah untuk ke Bukit Tinggi.

Bukan hanya memberikan informasi saja, bapak itu bahkan mentraktir kopi saya dan malah mengajak satu becak motor untuk mengantar saya ke tempat pemberhentian di simpang, di mana ada mobil menuju Panti. Dari situ saya naik mobil L-300 menuju Padang Sidempuan dengan membayar Rp 20 ribu sekitar 3 jam perjalanan.

Seorang nelayan sedang menjaring ikan di Danau Singkarak

Kemudian saya menyambung mobil yang sama L-300 Sibolga-Panti dengan ongkos Rp 60 ribu, yang perjalanannya yaah, kira-kira 4 jam. Setiba di sana saya lanjut naik mobil Panti-Bukit Tinggi dengan bayar ongkos Rp 30 ribu yang juga kebetulan ditempuh 4 jam perjalanan.

Wah, silakan membayangkan betapa kerasnya punggung dan kaku-nya otot-otot saya berjam-jam hanya duduk di kursi mobil. Malamnya, saya tiba di Bukit Tinggi dijemput seseorang bernama Godok, dia ini sepupu teman saya Candle. Oiya, Candle teman saya itu punya keluarga besar makanya saya diantar Godok ke rumah Bang Bob, hitungannya saudara Candle, memang, Candle ini punya keluarga besar di Bukit Tinggi.

Di rumah Bang Bob malam itu saya disambut dengan dinginnya suhu namun dihangatkan dengan suasana obrolan saya dengan Bang Bob bersama kepulan asap kopi hitam. Suasana malam itu makin seru karena kawan saya Dian Rizki Sikumbang datang dan kami saling berbagi cerita masa lalu saat masih sama-sama kuliah.

Dian sudah enak hidupnya, sudah berkeluarga dan sekarang jadi abdi negara di Payakumbuh, dia di Dinas Pariwisata. 

Dian Rizki kawan baikku menjadi guide hari ini sekalian kita reuni cerita masa mahasiswa ITHB 2003

Seekor kerbau sedang menyeberangi sungai di Tabiang Takuruang

Pagi di Bukit Tinggi sungguh mempesona, dinginnya cuaca di sana mungkin makin menambah sahdu. Candle pagi sekali sudah ‘menculik’ saya untuk diajak keliling Bukit Tinggi. Dia meminta saya merasakan nasi kapau.

Dan, Candle bilang dia mau mengajak saya ke Danau Maninjau, tetapi yang ada malah kami nyasar ke Pariaman. Yah, daripada tidak sama sekali maka di Pariaman kami habiskan dengan melihat UKM di sana yang memfokuskan pada kerajinan membuat topi dari bulu kuda.

Oiya, UKM topi bulu kuda sendiri menurut pengakuan seorang ibu yang saya temui di situ mengatakan, sekarang ini UKM mereka sedang dalam masa susah karena bahan yang mereka butuhkan untuk membuat topi sudah sangat sudah didapat, paling dalam satu bulan dia hanya bisa membuat 1 topi saja.

Puas melihat perajin topi di Pariaman kami langsung balik ke Bukit Tinggi karena keluarga kawan saya di Payakumbu sudah nunggu. Makanya setelah sampai di Bukit Tinggi saya dan Candle bergegas biar cepat sampai ke Payakumbu, perjalanan dari Bukit Tinggi ke sana butuh sejam perjalanan, yang harus kami tempuh menggunakan motor tua ‘soulmate’ nya Candle.

“Kadang motor ini suka rewel,” keluh Candle. Tibalah kami sejam kemudian di Payakumbu dan diperkenalkan oleh Candle kepada anak dan istrinya. Malam ini saya bermalam di Payakumbu.

Merayakan ulang tahun di alam raya payakumbu

Istano Basa Pagaruyung.

Hari yang yaah spesial lah buat saya, karena hari ini saya berulang tahun. Saya berniat memberi kado untuk saya sendiri dengan cara meminjam motor Candle berkeliling sendirian di Payakumbu. Saya ingin merasakan hawa pedesaan, hamparan sawah, dan hijau nya pematang sepanjang perjalanan.

Sumpah, udara di sini masih sangat segar dan alami. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, karena di hari ulang tahun saya ini, saya masih bisa menikmatinya di alam terbuka, hal yang tidak semua orang bisa merasakan bagaimana sensasinya.

Puas memberi kado untuk diri sendiri saya mampir ke kantor Candle. Di kantor ini saya akrab berbincang dengan seorang anak, namanya Ferdy. Obrolan kami serius sampai bahas masalah pacu jawi. Penasaran dengan itu saya mengajak Ferdy untuk melihat pacu jawi.

Sepeda motor kesayangan kawanku Dian Rizki.

Kebetulan kalau pacu jawi biasanya 2 sapi dan 1 joki yang mengendarai, tetapi pacu jawi di Payakumbu ini satu sapi dan satu joki hingga mereka kejar-kejaran. Saya sangat beruntung hari ini bahwa hari ulang tahun saya diberikan Tuhan untuk menyaksikan pacu jawi yang momen-nya sangatlah langka.

Menikmati keunikan pacu jawi dan pacu anjing yang khas

Ferdy ini ternyata anak yang suka dengan hal-hal yang luar biasa dan unik. Sore ini saya masih bersama dia keliling Payakumbu, dia nampaknya satu paket dengan saya, suka yang aneh dan uni, apalagi kata Ferdy di Payakumbu ini banyak menyimpan hal-hal unik yang belum semua orang mengetahuinya.

Jam Gadang ikon kota Bukit Tinggi

Kali ini saya diberikan kesempatan melihat pacu anjing. Hal ini baru pertama saya lihat selama saya berjalan, dulu sebelumnya, populer di daerah ini pacu itik. Walaupun hujan menghiasai sore itu di arena pacu tidak menyurutkan saya untuk mengabadikan momen yang langka untuk didapat lagi, benar-benar unik di sini.  Nah, hari ini saya masih penasaran dengan pacu anjing ini.

Hari ini seperti biasa Ferdy mengajak saya ke arena. Kali ini lebih baik dibanding kemarin karena hari ini pesertanya lebih banyak dan cuacanya juga mendukung, hari ini bakal banyak balapan yang bisa saya lihat.

Banyak hal-hal yang menarik selama saya melihat pacu anjing ini. Seperti ada anak babi dikasih cium anjingnya, kemudian anjing itu dipegang oleh si empunya dan ditaruh didalam bunker yang jaraknya kira-kira 100 meter kemudian anjing mencium bau anak babi, dan anjing berlari ke arah lubang kandang anak babi tadi.

Garis finis dibuat sebelum lubang babi itu sehingga, anjing yang melewati garis itu yang menang. Ada kala terkadang sebelum sampai finis anjing-anjing itu di tengah jalan malah berantem. Ini tontonan baru bagi saya.

Penulis, Photographer : Mahendra Moonstar

Editor : Eka Mahendra Putra