Bali, sebuah daerah yang jika kita menyempatkan diri menginjakkan kaki di sini, akan sangat merugi jika hanya datang sekedar menikmati keindahan alamnya, karena keindahan alam mungkin saja akan tergerus oleh keserakahan manusia suatu waktu, namun, di Bali, tidak akan sempurna rasanya jika kita tidak menikmati keindahan kearifan budaya lokalnya, kultur masyarakatnya, serta keindahan filosofi hidup mereka.

Hari ini, saya ingin sekali merasakan bagaimana menyatu dengan alam di Bali, dan merasakan aura bagaimana sendi kehidupan spiritual di sini. Makanya saya hari ini berhasrat untuk tidur di pura Campuhan Sanur sambil menunggu sunrise pagi. Dulu, tahun 2014 saya pernah memotret dari pura ini waktu Galungan, hingga saat itu saya tidak sengaja berjalan mencari pura yang terdalam di daerah Sanur hingga sampai ke pelosok.

Namun ada sebuah kearifan di sini kalau kita tidak melengkapi diri dengan kain dan udeng di kepala, maka kita tidak akan diperbolehkan masuk ke pura, karena kain dan udeng itu adalah sebuah simbol yang mengartikan bahwa manusia yang masuk ke sana harus terjaga dari ‘debu’ kehidupan luar dan harus menjaga pemikiran di kepala agar tetap bersih. Nah, berhubung hari ini saya tidak mengenakan kain dan udeng itu, saya jadi takut untuk memotret dari dalam, saya cuma bisa memanfaatkan waktu untuk mengabadikan apapun yang saya anggap menarik hanya dari balik pintu pura.

Lalu, di saat saya sedang sibuk mencari celah untuk memotret ke dalam, tiba-tiba muncul sesosok pria paruh baya, berjenggot panjang, dia hanya mengenakan kain saja, dan tidak ada baju yang menutupi tubuhnya. “Mas mau masuk? Masuk saja,” kata dia seakan dia tahu kegundahgulanaan saya yang gagal masuk. Tapi saya bilang ke bapak itu, bahwa saya tidak dilengkapi dengan kain dan penutup kepala, itu alasan kenapa saya tidak bisa masuk dan hanya menikmati dari luar saja.

Dengan perasaan sedikit malu namun karena dorongan dari bapak tadi saya akhirnya masuk juga. Tapi, belum setengah saya berjalan ke dalam pura, ada umat yang langsung menegur saya dan menyuruh saya melengkapi diri dengan kain dan penutup kepala. Kepalang karena sudah berada di dalam, saya akhirnya memberanikan diri untuk meminjam kain dan penutup kepala dari umat di sana yang telah selesai melaksanakan ritualnya. Jadi, saat persyaratan saya untuk masuk ke pura sudah lengkap berkat bantuan dan dorongan bapak berjenggot tadi.

Puas menikmati keindahan dan ritual-ritual keagamaan di pura itu saya beranjak dari sana. Namun sore harinya, pikiran saya terus mengarah ke bapak tua yang mengizinkan saya masuk siang tadi. Entah kenapa saya merasa ada sesuatu yang hebat dari pria tadi, saya merasa bapak itu menyimpan sebuah kelumit kisah hidup yang harusnya tidak boleh saya lewatkan begitu saja. Saya ingin sekali bertemu dengan bapak tadi, setidaknya jika memang saya salah menilah, saya masih bisa mendapat satu teman lagi. Tak berlebihan jika saya dalam hati bepikir bahwa bapak itu akan saya panggil dengan mahaguru Gede.

Pagi di Pura Campuhan Sanur.

Pagi di Pura Campuhan Sanur.

Penampilan mahaguru sangatlah sederhana.

Penampilan mahaguru sangatlah sederhana.

Dorongan untuk bertemu mahaguru Gede membuat saya berjalan lagi ke pura yang saya datangi siang tadi. Akhirnya saya bertemu juga dengan mahaguru Gede, setelah memperkenalkan diri, dia akhirnya menerima saya dan kami terlibat dalam obrolan hebat dan panjang.

Diceritakan oleh mahaguru, dia sudah sejak tahun 2005 meninggalkan keluarganya, harta dan semua yang ia dapat dalam hidup untuk memenuhi diri menjadi pelayan umat dan mendirikan pura di daerah Campuhan Sanur. Saya tanya alasan ke mahaguru kenapa dia memilih membangun pura di lokasi yang sebetulnya out of the box bagi sebagian orang, lumayan terpencil, naik-turun bukit dan lokasinya pun menurut saya orang awan kurang strategis untuk menunjukkan karakter keimanan yang dianut, karena bagi sebagian orang menempatkan rumah ibadah haruslah strategis. Tapi jawaban mahaguru membuat saya berpikir ulang lagi sial argumentasi diri dan logika faktual yang saya pakai itu. Mungkin kalau orang Tionghoa bilang ‘fengsui’.

“Di sini, di tempat ini, lokasinya sangat baik karena di sisi pura ada aliran sungai dan air itu bertemu dengan air laut,” itu alasan mahaguru ketika saya menanyakan kenapa membangun pura di tempat yang agak jauh. Soal pembangunan pura telah dijawab mahaguru yang membuat satu lagi pelajaran yang bisa saya dapatkan, bahwa tidak semua lokasi yang dianggap baik bisa membawa kebaikan, karena ada tempat di bumi ini yang bagi sebagian orang tidak menarik namun jika dilihat dengan nurani yang bersih, tempat itu sebetulnya menjadi muara hidup dan mempertemukan kebaikan dan kebajikan.

Di sela-sela pembicaraan kami berdua, mahaguru berkisah dia memutuskan untuk menjadi pengabdi Tuhan dan pelayan umat bukanlah diambil dengan emosi yang sesaat saja. Ada pertimbangan-pertimbangan agung sebelum dia memutuskan. Cerita dia, kala itu, dia divonis oleh dokter telah menderita sakit gagal ginjal dan dokter kala itu mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk membantu kesembuhan dirinya. Makanya, vonis dokter yang seperti itu membuat dirinya memikirkan lagi bagaimana kehidupannya, dan bagaimana ‘kecewanya’ dia dengan vonis kehidupan yang diutarakan oleh seorang anak Tuhan, sedangkan bagi dia Tuhan sendiri belum memberikan putusan apa-apa.
Makanya, beranjak dari itulah, beranjak dari kekecewaan akan sebuah diagnosa yang terlalu awal bagi dirinya, mahaguru memilih untuk memasrahkan hidupnya kepada Tuhan, dia memilih jikapun Tuhan akan mengambil dirinya ke nirawana, maka dia harus pergi dengan keadaan terlebih dahulu menjadi pelayan umat. “Akhirnya saya lebih mengenal apa arti spiritual dan meninggalkan semua yang telah saya peroleh di dunia, baik harta maupun keluarga,” sebutnya.

Mahaguru Gede sudah banyak melewati proses dalam hidup hingga memutuskan untuk bertapa di hutan selama setahun. Yang menarik dari mahaguru ini ketika dia menerima saya bukan karena kepercayaan Hindu, tapi karena saya adalah manusia, yang ia anggap tidak ada bedanya dengan dirinya, hanya berbeda dari segi masing-masing meyakini jalan hidup masing-masing untuk spiritual dan keyakinan akan Tuhan masing-masing. Mahaguru sangat terbuka, dia mau berbagi dan tidak menganggap saya orang yang bodoh, dia memanjakan diri saya dengan cerita-cerita spiritual yang tanpa ada tendensi menggurui sedikitpun. Hari itu, dia memberikan saya sebuah batu bata , dan katanya, batu bata itulah yang akan kami gunakan sebagai bantal tidur kami. Kami tidur bersebelahan sambil memandang sinar bintang sambil ia melanjutkan ceritanya. Bahwa, 11 tahun sudah ia melakukan hidup seperti ini dan ingin menjadi pelayan Tuhan sebagai perpanjangan untuk melayani umat.

Pura Campuhan sekarang sudah berkembang pesat akibat perjuangan mahaguru Gede.

Pura Campuhan sekarang sudah berkembang pesat akibat perjuangan mahaguru Gede.

Kala senja di Pura Campuhan Sanur.

Kala senja di Pura Campuhan Sanur.

“Bukan menjadi pelayan umat untuk bayar kredit. Banyak sekarang kita lihat orang spiritual tapi memasang tarif untuk membantu orang. Inti sebelum kami memejamkan mata hiduplah berguna bagi orang lain bukan mengharap apa-apa,” pesan mahaguru sambil kami berdua memandang langit tak berbatas yang dipenuhi bintang, karena malam itu kami diatapi langit dan gelapnya langit Bali. Dia berkata, jika suatu hari dia meninggal maka dia hanya ingin meninggalkan satu kesan bahwa ada sebuah pura yang telah ia bangun untuk umat berinteraksi dengan Tuhan di pura Campuhan ini. Ada satu pesan hidup yang bagus dari mahaguru kepada saya, dia memberi pesan dan sebuah analogi hidup dari seorang supir bus lintas.

“Belajarlah dari supir mobil lintas yang membawa mobil dari Jawa ke Bali. Bagaimana mereka melawan ngantuk, mengontrol kakinya untuk membawa orang banyak dan membawa dirinya supaya selamat,” itu pesan mahaguru. Di jaman seperti ini sangat sulit menemukan orang yang bisa menahan diri dan mengontrol sifatnya terhadap godaan apa saja. Mahaguru gede merupakan magnet bagi saya bagaimana kesederhanaan dan caranya berfikir membuat saya mengerti bahwa apapun yang kita percayai intinya semua mengajarkan kebaikan dan pentingnya hidup toleransi.

“Dan kamu seperti ini, dan tidur di sini, saya terima,” kata mahaguru, lalu kami masih terus larut dalam pembahasan spiritual dan pelajaran hidup yang terus ia bagi untuk saya yang masih muda ini. Pesan-pesan hidup yang telah disampaikan mahaguru membuat mata saya terbuka, bahwa manusia banyak kelemahannya jika harus dihadapkan kepada bentuk godaan apa saja, apakah itu harta, tahta maupun bentuk godaan lain. Lagi-lagi, Bali mengajarkan saya bahwa hidup ini bukanlah sekedar perhitungan untung-rugi maupun maju-mundur, tapi soal bagaimana tidak ada yang merasa dirugikan dan tidak menguntungkan diri sendiri. Terimakasih Bali, terimakasih mahaguru Gede untuk pelajaran hidup dari anda. (*)

Tempat tidur mahaguru setiap hari dengan bantal batu. Mahaguru Gede sangat senang tidur beratapkan langit.

Tempat tidur mahaguru setiap hari dengan bantal batu. Mahaguru Gede sangat senang tidur beratapkan langit.

Saya merasakan ketenangan ketika saya mencoba tidur dengan beratapkan langit dengan penuh bintang-bintang dan bunyi deburan ombak pantai.

Saya merasakan ketenangan ketika saya mencoba tidur dengan beratapkan langit dengan penuh bintang-bintang dan bunyi deburan ombak pantai.

Banyak anjing buangan di Pura Campuhan yang dipelihara oleh mahaguru Gede.

Banyak anjing buangan di Pura Campuhan yang dipelihara oleh mahaguru Gede.

Foto saya waktu pertama mengenal mahaguru Gede dua tahun lalu.

Foto saya waktu pertama mengenal mahaguru Gede dua tahun lalu.