19 April

Pagi ini jam di tangan saya menunjukkan pukul 05.00 WITA, dan saya sedang berada di pool Damri di Mataram Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Jam memang masih pagi betul, tapi riuh rendah suara orang-orang beraktifitas sudah ramai terdengar, menandakan bahwa kehidupan sudah dimulai di sini. Di pool ini memang ramai, karena ini alternatif warga untuk bepergian ke mana saja, termasuk saya yang ingin pergi ke pulau Moyo.

Di sini banyak Damri, dan semua arah perjalanan ada di sini, jadi tinggal pilih mau ke mana anda pergi maka pilih satu Damri, bayar dan anda pergi, makanya pagi sekali pool ini sudah ramai orang.

Kalau untuk saya sendiri harus bayar Rp 80 ribu menuju ke tempat penyeberangan namanya Kayangan yang akan menjadi titik awal saya ke pulau Moyo. Sekitar pukul 10.00 WITA saya tiba di Kayangan. Tahu bahwa saya akan naik kapal maka saya memutuskan untuk membeli makanan ala kadarnya untuk bertahan di kapal, dengan bermodalkan Rp 17 ribu saya sudah bisa mendapat nasi ikan dan sebotol minuman mineral, ah, lumayan untuk ‘senjata’ saya selama di perjalanan.

Keinginan saya ke pulau Moyo sebetulnya memang telah lama saya pikirkan, pulau Moyo adalah salah satu destinasi yang memang saya rencanakan, saya sendiri berancana untuk tinggal di sana, saya penasaran dengan pulau yang air terjunnya pernah dirasakan tubuh indah Lady Diana semasa hidupnya. Saya penasaran seperti apa sih pulau Moyo itu dan seberapa eksotisnya pulau itu.

Di kapal sendiri saya menghabiskan waktu kira-kira 1,5 jam perjalanan. Nah, selama di kapal saya menghubungi Bang Jendi, dia ini adalah abangnya kenalan saya Bang Ray. Di telpon saya menjelaskan kepada Bang Jendi bagaimana besarnya hasrat saya untuk menginjakkan kaki ke pulau Moyo, walaupun saya sadar sepenuhnya bahwa pulau itu sekarang sudah sangat komersil, agak berbeda dengan prinsip saya yang kalau bisa mencari lokasi yang benar-benar masih perawan, tapi tak apalah, namanya juga memang sudah menjadi niatan dari awal, jadi saya sebisanya harus sampai di pulau itu. Dan Bang Jendi siap-siap saja menerima saya, namun karena tujuan yang saya rencanakan itu lumayan jauh dari tempat dia tinggal, maka dia memberi sebuah nomor telpon yang itu adalah punya seseorang bernama Rio.

Bang Jendi menyarankan saya untuk menghubungi Rio, karena Rio memang orang yang tinggal di wilayah sana yang memang biasa mendampingi tamu. Rio ini anak Sumbawa Besar. Saya langsung menelpon Rio ini. Memang saya dan Rio belum pernah saling kenal satu sama lain, namun dari nada suaranya saya tahu bahwa Rio ini memang orang yang akan memberikan pertolongan kepada saya, mungkin itu adalah insting saya yang gemar bertemu dengan beragam orang sehingga insting terasah hanya dari nada bicara orang.

Sekitar pukul 15.00 WITA saya sampai, dan Rio langsung menjemput saya, kami berkenalan sesaat hingga dia mempersilakan saya untuk tinggal di rumahnya.

Saya bilang ke Rio selama perjalanan, bahwa saya sangat penasaran dengan pulau Moyo dan saya sangat ingin merasakan daerah itu. Berhubung rumah Rio sendiri dengan pulau Moyo jauh dan harus melewati laut, Rio memberikan saya nama seseorang bernama Pak Sanusi, Rio meyakinkan saya bahwa Pak Sanusi inilah yang akan menampung saya selama di Moyo. Itu membuat saya lega, benar-benar membuat saya berterimakasih kepada Tuhan bahwa sejauh ini saya selalu dikenalkan dengan orang-orang hebat yang selalu membantu saya selama perjalanan saya.

Setelah selesai berbincang, kami duduk di sebuah tempat peristirahatan dan meminta air panas ke penjaga tempat itu, ternyata Rio ini sengaja membawa kopi, kopi itu asli Toraja. Rio ini memang penggila kopi, dia banyak mengoleksi kopi-kopi terkenal dari penjuru nusantara, dan nikmatnya hari itu di mana kami berdua menikmati gurihnya kopi toraja koleksi Rio. Saya sejauh ini merasa sangat beruntung bisa mengenal Rio.

Tak lama, Rio mengajak saya untuk menikmati sore hari di pantai Jempol. Di situ kami melanjutkan bertukar cerita soal kehidupan masing-masing sambil menikmati sunset yang perlahan tenggelam. Indah, hari yang indah sejauh ini.

Akhirnya setelah matahari muilai terbenam kami mencoba mencari informasi apakah ada publik boat menuju ke pulau Moyo. Ada jadwal besok siang menuju pulau Moyo. Itu membuat saya sedikit tenang, karena wajar saja saya tenang, kalau mau ke pulau Moyo kita normalnya harus menyewa kapal cepat dengan menguras uang di dompet jutaan rupiah, manalah mungkin orang seperti saya punya uang begitu besar, bahkan untuk tiketpun saya harus mencari yang seminimal mungkin.

Penutupan hari itu, Rio mengajak saya untuk duduk santai menikmati kopi di sebuah kafe yang ternyata rata-rata diisi oleh pecinta petualangan, istilah kerennya orang-orang adventure ngumpul di kafe itu. Banyak kisah-kisah yang saling kami bagi di situ. Saya Cuma bilang bahwa, ketika kita mengeksplore suatu wilayah di nusantara ini, gak akan ada habisnya. “Tugas pengembara seperti saya ini hanyalah menuliskan kebaikan dari orang-orang yang saya temui. Jikapun saya mendapatkan tempat yang indah, itu adalah bonus dari apa yang saya jajaki di satu tempat. Saya Cuma ingin membagi bagaimana uniknya orang Indonesia dengan segala keramahtamahaannya,” kata saya kepada kawan-kawan sore itu.

Kawan saya Rio membuka jalan saya bisa menikmati keindahan pulau Sumbawa.

Kawan saya Rio membuka jalan saya bisa menikmati keindahan pulau Sumbawa.

Ibunya Rio kawan saya di Sumbawa, beliau sangat pintar memasak sehingga makanan yang dihidangkan selalu enak saya rasakan.

Ibunya Rio kawan saya di Sumbawa, beliau sangat pintar memasak sehingga makanan yang dihidangkan selalu enak saya rasakan.

20 April

Pagi ini saya bangun di rumah Rio, kopi hitam dengan aroma yang menggoda sudah menanti untuk dihirup. Obrolan yang ditemani dengan kopi akan terasa jauh lebih terasa, saya dan Rio saling bertukar cerita hidup. Sungguh, dengan umur yang baru 27 tahun Rio nampak jauh lebih dewasa dari umurnya, pemikirannya sangat luar biasa. Dia mengatakan dengan menerima saya sebagai tamu dia sama sekali tidak mengharapkan apapun dari saya, dia hanya percaya bahwa suatu hari kebaikan yang telah ia berikan kepada saya pasti akan ada balasannya, entah dari siapa atau dari mana, yang jelas kata dia apa yang kita tabur maka itulah yang akan kita tuai.

Obrolan saya dan Rio semakin hangat dengan cerita pengalaman dia di Bandung yang sempat dapat pekerjaan yang bagus namun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan mencoba untuk membuka paket travel di daerahnya sendiri. Pulau Moyo merupakan konsen Rio dengan kecintaanya kepada alam. Jadi beberapa orang yang dia bawa selalu merasa bahwa dia sangat mengerti bagaimana memanjakan tamunya. Dia bisa menyesuaikan diri. Rio ini seolah-olah punya ‘gift’ dari Tuhan yang bisa menyesuaikan diri kepada siapapun yang baru ia kenal, dia langsung bisa nyetel dengan siapapun dalam kondisi apapun, makanya, saat saya ia perkenalkan dengan Pak Sanusi saya merasa Rio telah memanjakan saya dengan semua koneksi yang ia punya demi cita-cita saya ke pulau Moyo.

Sekitar pukul 11.00 WITA saya mulai mempersiapkan diri, ibunya Rio sempat memasak makanan untuk sarapan saya sebelum saya pergi. Sungguh, makanan yang disajikan ibu Rio sangat enak, sudah lama saya tidak pernah merasakan bagaimana enaknya masakan rumah, malah terkadang lidah saya sudah mati rasa dengan makanan rumah. Makanya, masakan ibunya Rio hari itu berlipat-lipat nikmatnya, cumi kuah dengan bumbu khas dan ikan goreng segar membuat saya nambah nasi saking enak masakan dengan ikan goreng segar. Rio bercanda, mumpung masih bisa menikmati yang enak nikmati saja bang, kata dia.

Sekitar pukul 12.00 WITA saya diantar Rio ke pelabuhan publik boat tidak jauh dari pantai Jempol. Di sana saya ditembak ongkos Rp 50 ribu dan biasanya jasanya hanya Rp 25 ribu. Karena saya tak punya lagi uang sebesar yang diminta pemilik kapal, membuat saya putus asa.

“Kalau gak bayar lima puluh ribu, enggak usah berangkat,” itu kata pemilik kapal di depan hidung saya, yang bikin mental langsung drop. Akhirnya saya bilang ke Rio, ya sudah, mungkin belum jodoh saya ke sana.

“Kita menikmati daerah Sumbawa Besar ini aja,” keluh saya ke Rio dengan nada sedikit kecewa, memang, saya kecewa karena tidak bisa ke Moyo hanya karena keras kepalanya sang pemilik kapal. Inilah yang saya bilang pengembara seperti saya selalu saja dikejutkan dengan hal-hal yang tak pernah terbayangkan, namun harus bisa menerima semua kejutan itu dengan apa adanya, karena manusia memang beragam rupa dan sifat, bisa-bisanya kita saja menikmati itu semua sebagai sebuah proses dari sebuah perjalanan yang sudah ada konsekwensinya. Dan kali ini, konsekwensi itu adalah kegagalan saya untuk ke pulau Moyo.

Tapi apa yang terjadi selanjutnya membuat saya heran. Semangat saya yang sudah rapuh ternyata tidak bagi Rio. Dari situ entah siapa yang dia telpon berulang-ulang membuat saya diajaknya ke salah satu hotel namanya Amanwana.

Di situ ada kapal yang mau berangkat ke pulau Moyo. Tapi bukan perkara gampang untuk numpang di kapal itu, karena tanpa izin dari security maka percuma saja kita ngemis-ngemis sambil makan pasir. Security itu bernama Pak Majid. Awalnya dia sama sekali tidak memperbolehkan saya naik di kapal itu, karena kata dia kapal hanya boleh dinaiki pegawai hotel dan masyarakat Labuan Aji.

Namun, setelah saya memberikan sedikit pengertian kepada Pak Majid, dia akhirnya mengerti apa tujuan saya ke Moyo, lalu dia berubah pikiran dan mempersilakan saya numpang di kapal itu. Tuhan, saya benar-benar merasa sangat beruntung, inilah kebaikan-kebaikan yang bisa saya rasakan.

Pukul 13.15 WITA saya ikut kapal pengantar karyawan menuju pulau Moyo. Perjalanan kami tempuh dalam 2 jam, sesampainya di pelabuhan kapal hotel saya langsung menelpon Pak Sanusi, tapi sebelum Pak Sanusi datang saya menyempatkan diri membeli bahan makanan, karena saya tidak mau menyusahkan orang lain yang harus memikirkan makan saya, karena saya tidak tahu siapa yang akan saya hadapi di depan pintu.

Pak Sanusi membawa saya ke rumahnya, saya menceritakan siapa diri saya ke bapak, obrolan kami semakin hangat. Dia menceritakan bagaimana selama ini iklas menolong orang yang ingin ke Moyo dan menerima tamu beragam jenis dan bentuk.

“Saya ikhlas menjalani, dan siapapun saya terima dengan kondisi apapapun,” itu kata dia yang membuat saya terharu. Saya merasa bahwa masih ada Pak Sanusi dalam perjalanan ini. Saya bisa menginjakan pulau Moyo tak lepas dari peran Rio dan Pak Sanusi serta security Pak Majid yang baik hati dan tentunya tidak lupa, sang pemilik kapal yang hanya mau duit, setidaknya saya belajar dari dia bahwa semulusnya perjalanan pasti ada lubang yang bikin kita mengendurkan gas.

Salah satu pemandangan di pantai di pulau Moyo.

Salah satu pemandangan di pantai di pulau Moyo.

Bang Putra salah seorang polisi air di Amanwana hotel yang mengajak saya snorkling di daerah privat itu.

Bang Putra salah seorang polisi air di Amanwana hotel yang mengajak saya snorkling di daerah privat itu.

Bawah laut di hotel Amanwana pulau Moyo.

Bawah laut di hotel Amanwana pulau Moyo.

Bawah laut di pulau Moyo ketika snorkling.

Bawah laut di pulau Moyo ketika snorkling.

21 April

Pagi ini saya bangun dengan semangat yang menyala. Saya meminta izin Pak Sanusi untuk berjalan-jalan mengelilingi kampung Moyo, karena rugi bagi saya jika sudah di sini tapi tidak berjalan seadanya, demi mendapatkan pengalaman baru, karena satu meter pun kita bergerak pasti ada pengalaman yang kita dapatkan.

Saya berjalan di sebuah pantai, dan melihat ada seorang bule yang sedang menyusuri pantai. Penasaran saya langsung mengajak bule itu ngobrol, ternyata bahasa Indonesia dia sangat fasih, wajar saja, tenyata dia memang sudah lama tinggal di sini dan beristrikan orang Sumbawa.

Dia memperbolehkan saya untuk masuk ke pondok yang sedang ia bikin. Ternyata itu adalah sebuah cottage untuk penginapan di pulau Moyo. Istrinya orang asli Sumbawa dan mempunyai 2 anak. Ia sedang membangun usaha ini bersama istrinya dan hampir dalam tahap penyelesaian.

Makanya saya bilang pulau Moyo ini sekarang sangat komersial, jadi saya akan berfikir 2 kali untuk datang ke sini lagi, kemana-mana mahal, naik ojek ke satu tempat tujuan saja harus mengeluarkan uang Rp 100 ribu, hanya untuk satu tujuan!.

Merasa tak punya uang untuk kemana-kemana, saya lalu pulang ke rumah Pak Sanusi. Niatnya untuk meminta Pak Sanusi menemani saya ke air terjun yang pernah menjadi tempat mandi Putri Diana. Namun, saya merasa tak enak mengajak beliau karena sedang disibukkan dengan pekerjaan membangun rumah. Tahu akan niatan saya yang mau ke air terjun, Pak Sanusi menawarkan ke saya ojek, tapi saya menolak karena saya tak punya uang untuk membayar ojek. Saya terpaksa mengurungkan niat saya, lagi-lagi, mungkin ini belum rejeki saya untuk menikmati air yang pernah diselami Lady Diana.

Tiba-tiba entah dari mana datangnya, seorang remaja kira-kira berumur 19 tahun datang menghampiri saya. Namanya Samsul.

“Ayo bang ke air terjun Mata Jitu bersama saya. Nggak usah pikirin duit sama bensin,” kata Samsul.

Jelas saya kaget, saya heran, saya terperangah. Ini benar apa yang saya dengar? Apa saya tidak salah? Saya toleh ke belakang tidak ada siapa-siapa, itu artinya orang ini bicara sama saya. What? Saya minta Samsul mengulangi lagi ajakannya.

Setelah yakin bahwa apa yang ia utarakan itu tidak salah, saya dengan riang gembira dan hati yang berbunga-bunga langsung naik ke motor Samsul tanpa sedikitpun berpikiran negatif akan hal ini. Yang jelas saya sedang bahagia mendapat berkah sedemikian rupa. Hanya saya dan Tuhan yang tahu betapa bahagianya saya kala itu datang seorang pria bernama Samsul.

Perjalanan menuju air terjun Mata Jitu kami tempuh sekitar 30 menit dari rumah Pak Sanusi. Sampai di sana saya tak henti-hentinya mendokumentasikan Mata Jitu yang terkenal itu. Puji Tuhan masih bisa saya ke sini berkat Samsul. Hanya kita berdua di sini dan membuat kami lepas berenang sepuasnya. Airnya segar dan jernih dengan khas beberapa tingkatan air yang mengalir. Setelah puas di sana saya sangat mengucap terima kasih kepada Samsul sehingga saya bisa menikmati indahnya air terjun Mata Jitu. Kemudian kita pulang dan dia menawarkan kembali melihat pantai yang tidak jauh dari Amawana hotel. Di sana saya melihat keindahan tebing dan karang dan bisa melihat lautan lepas. Hingga sore di sini kami memutuskan pulang, menyaksikan sunset di kampung Labuan Haji. Sampai di situ penutupan saya menikmati warna oranye merah langit yang luar biasa di Labuan Haji. Terimakasih Tuhan, hanya berkat-Mu lah semua ini bisa terjadi, ada-ada saja manusia baik hati yang kau berikan untuk memuluskan langkah perjalanan saya. (*)

Hijaunya air terjun mata jitu.

Hijaunya air terjun mata jitu.

Salah satu jembatan yang kita lalui di air terjun mata jitu.

Salah satu jembatan yang kita lalui di air terjun mata jitu.

Salah seorang pria asal Perancis yang mempunyai home stay di pulau Moyo.

Salah seorang pria asal Perancis yang mempunyai home stay di pulau Moyo.

Samsul salah seorang pria di pulau Moyo mengajak saya melihat air terjun mata jitu tempat lady Diana pernah berkunjung kesana.

Samsul salah seorang pria di pulau Moyo mengajak saya melihat air terjun mata jitu tempat lady Diana pernah berkunjung kesana.

Segarnya air terjun mata jitu dimana lady Diana pernah mandi disini.

Segarnya air terjun mata jitu dimana lady Diana pernah mandi disini.