Badai Nakal di Kaki Kerinci sang ‘Atap’ Sumatera

2

JANUARI, 2017

Because
Everyday
Is Holiday

Tanggal 12 November, di sela-sela menikmati keagungan Tuhan di alam terbuka, saya menjadi terpikir untuk memutuskan kembali melakukan perjalanan saya ke Jambi. Entah apa alasan saya, dan tidak ada yang terlalu khusus kenapa saya ingin memutuskan kembali ke Jambi, namun yang pasti kepergian saya ke sana kemungkinan tidak sendirian.

Karena teman baik saya Mike Eng Naftali kebetulan dapat izin cuti dan ke Jambi untuk mengurus SIM. Nah, di sela-sela mengurus SIM itu dia merencanakan naik ke Gunung Kerinci.

Hari itu, sebelum saya melakukan perjalanan ke Kerinci saya terlebih dahulu pamit dengan Bang Bob dan keluarganya yang udah baik banget selama saya ‘ditampung’ di tempat mereka, tapi saya harus tetap melakukan perjalanan ini.

Saya pergi diantar Godok, saudaranya Candle mengarah ke jalan utama di mana jalur bus menuju Jambi akan lewat di situ. Lagi-lagi, strategi saya selalu sama di setiap perjalanan, tidak pernah menunggu bis di terminal karena pasti banyak calo. Saya selalu menunggu bis di tempat mereka melintas, dan nyatanya, hal itu nyaris selalu berhasil tanpa melewati beragam calo.

Epa Star akhirnya menjadi bus pilihan saya dengan membayar Rp 150 ribu saya duduk manis untuk sampai ke Jambi.

13 November

Bus Epa Star yang saya tumpangi berhenti di Muara Biluan karena bus menuju palembang pukul 00.30 Wib tidak melewati Jambi.

Nah, karena bus tidak melewati kota Jambi terpaksa saya diturunkan sebelum masuk Jambi. Ribetnya lagi akses menuju ke kota ngeri-ngeri sedap, agak susah, kendaraan lumayan susah ditemui yang mau ke kota karena saat itu sudah menjelang subuh. Alih-alih dapat kendaraan yang lumayan tidak menguras isi kantong, akhirnya mau tidak mau travel adalah pilihan ‘cerdas’ saat itu.

Naik travel ke kota Jambi dengan membayar Rp 20 ribu dan setop di simpang Kawat depan empek-empek Nony, lalu tiba di Jambi sekitar pukul 01.00 Wib, hitungannya setengah jam perjalanan dari Muara Biluan-Jambi.

Sampai di Jambi saya langsung bertemu dengan teman, lalu hari itu kami habiskan untuk bercerita, pokoknya apapun diceritakan yang penting penat hilang, dan benar saja, karena terlalu capek akhirnya saya knock out juga, dan tepar.

Paginya setelah bangun saya dan Eeng langsung beres-beres untuk ngurusin SIM dia, lalu seperti yang saya bilang tadi, kami mau melanjutkan perjalanan ke Kerinci.

Tapi sebelum ke Kerinci kami ada jadwal untuk melihat-lihat Candi Muara Takus, kami tidak berdua, ada kakaknya Eeng yaitu Ko Engsun.

Di candi itu sebetulnya menarik, banyak hal-hal yang bisa kita temui di situ jika ingin belajar sejarah, tempatnya lumayan bagus dan terlihat tertata rapi, bahkan, untuk menjelajahi lingkungan candi kita sudah disiapkan sewa sepeda dengan harga Rp 10 ribu per orang. Tebak sepeda warna apa yang kami pesan? Bukan hitam, bukan pula putih, tapi pink! Hahaha, terkadang ada sisi romantis juga di antara lebatnya rambut ini. Oiya, tiket masuk ke candi itu kita cukup bayar Rp 3 ribu per kepala. Lumayan murah, kan untuk sebuah petualangan sejarah.

Puas dengan menjelajahi candi kami pulang, dan menunggu travel untuk mengantar kami ke wilayah Gunung Kerinci. Travel menjemput kami di rumah kawan saya Eeng. Perjalanan kami perkirakan 7 jam bahkan lebih. Untuk informasi saja, jarang ada travel menuju Sungai Penuh.

Selama perjalanan itu saya disibukkan dengan beragam cerita bahwa jalan menuju ke lokasi yang akan kami datangi itu rawan. Kabarnya banyak bajing loncat, sehingga travel menuju ke sana memilih untuk berjalan beriringan daripada sendiri-sendiri.

Biaya travel Rp 170 ribu per orang, itupun ternyata kami kena calo karena standarnya ke lokasi yang kami tuju itu cuma Rp 130 ribu. Sebaiknya lebih teliti membeli tiket travel menuju Sungai Penuh.

View pemandangan menuju puncak Kerinci.

Photo by Moonstar Simanjuntak

14 November

Tiba di Sungai Penuh kita harus mencari angkutan menuju Kersi Tuo. Di sana merupakan pos pendakian pertama. Menurut informasi kawan saya Eeng, pos pendakian dekat Tugu Macan. Kami subuh baru tiba di sana, kita dapat angkutan menuju Kersi Tuo dan diberhentikan di pos pendakian. Kami masih menyempatkan diri untuk mencari sarapan, lumayan buat pengisi tenaga karena perjalanan berikutnya pasti akan menguras energi.

Bagi yang belum pernah ke Kerinci, jangan kaget jika di situ ada jasa porter karena mau tidak mau diakui atau tidak mereka sangat membantu. Pagi-pagi sekali ada beberapa porter yang sudah bangun dan sigap mencari rejeki. Saya sempat ngobrol dengan salah seorang porter di situ, kalau tidak salah namanya Murdam.

Dari hasil obrolan kami itulah diputuskan Kurs An ini lebih cocok menemani kami untuk mendaki.
“Dia cocok menemani kita,” kata teman saya.

Di antara obrolan itu ada seorang anak muda namanya Ferdy, dia dari Jakarta dan juga kepengen naik ke Kerinci, dia sendiri sudah menginap semalam di pos awal. Akhirnya dia ikut dan kami berembug untuk urun donasi bayar jasa porter, lalu kami dapat harga tengah-tengah Rp 250 ribu untuk porter 1 hari naik Kerinci, dan Murdam yang menjadi porter memeriksa bawaan untuk seperlunya ke atas, jujur saja, bawaan kami ternyata lumayan berat, saya baru sadar bahwa ternyata gunung yang akan kami daki itu merupakan atap Sumatra.

Wow! Saya harap-harap cemas untuk bisa atau tidak ikut mendaki, karena pengalaman mendaki gunung belum bagus, tidak sebagus kawan saya Eeng yang pernah ke Rinjani.
“Sudahlah, naik sajalah, sudah di sini juga,” sebut saya dalam hati.

Perjalanan dimulai dari Tugu Macan dengan numpang mobil hingga pos pendakian pertama biar tidak capek. Perjalanan menuju puncak sangatlah sulit beberapa kali saya mengeluh.

Cuaca saat itu tidak bagus, jalanan lumayan licin akibatnya waktu yang kami tempuh untuk ke pos terakhir itu sekitar jam 6 sore.

Sesampai di pos terakhir kami mendirikan tenda dan menyempatkan diri menikmati keindahan alam yang ditawarkan kaki Kerinci.

Tak beberapa jauh dari lokasi kami mendirikan tenda ada beberapa orang yang katanya dari Pekanbaru sudah camping di atas. Dan kami berkenalan lalu merencanakan summit sama-sama.

Malam harinya kami harus merasakan badai kecil saat semua sedang terlelap, tetesan nakal air hujan membuat saya beberapa kali terbangun yang memaksa saya menghidupkan kompor sekedar untuk menghangatkan tubuh akibat dingin yang menyerang di tengah badai. Memang Kerinci boleh dibilang pendakian sulit pertama saya.

“Pertemanan merupakan aset dalam kehidupan, jika kau menjaganya dengan baik tanpa harus mengambil keuntungan satu sama lain. Suatu saat kamu akan merasakan kebaikannya.”

15 November

Badai yang menghantam malam tadi, membawa sebuah berkah yang tak terhingga, saat mata terbuka di pagi hari sebuah keindahan luar biasa terpampang di depan mata, garis keindahan di langit luar biasa membuat saya kagum. Puji Tuhan, itu sebuah keindahan yang luar biasa.

Pagi ini kami merencanakan muncak. Akhirnya saya pun ikut start jam 07.00 Wib berjalan medan ektsrim pasir, dan kami berjalan hingga 3 jam.

Jujur, saya dalam kondisi kekurangan oksigen, jantung sudah berdetak dengan kecepatan penuh, yang finally membuat saya kelelahan dan harus istirahat dan istirahat lagi.

Padahal sedikit lagi puncak akan kami injak, tapi karena kelelahan yang luar biasa membuat saya harus memaksa rekan-rekan yang lain juga beristirahat. Namun, dengan teman memperlihatkan puncak 3805 mdpl saya pun menggunakan tenaga dan semangat yang tersisa untuk menggapai puncak.

Perjuangan ini adalah hal terindah bagi saya, gunung tertinggi di Sumatera bisa saya taklukan dengan sejuta keletihan yang mendera.

Padahal saya tidak punya latar belakang pendaki, paling tidak tahun 2012 saya pernah naik ke Gede, itupun sekedar mendaki, asik-asikan aja.

Tapi kali ini pengalaman serius tentang pendakian. Sore kita turun dengan kondisi medan yang hancur hingga hampir 6 jam tiba di pos pendakian dan menginap semalam di sana.

16 November

Pagi kita jalan menuju ke Sungai Penuh naik angkutan umum dengan ongkos Rp 15 ribu. jujur saja di sini angkutan susahnya minta ampun, mahal-mahal lagi!.

Di Sungai Penuh Boi Eeng memesan kamar agar dia bisa beristirahat sampai sore karena badannya sudah terlalu letih. Kawan saya ini banyak membantu bisa sampai di puncak Kerinci dan dia rela memesan kamar agar saya bisa bertahan dan melihat danau Kaco.

Sorenya kami berpisah, kawan saya mau kembali ke Jakarta untuk beraktifitas seperti biasa dan saya berencana tetap di sini untuk menikmati danau Kaco.

Puncak Gunung Kerinci

Photo by Moonstar Simanjuntak

17 November

Pagi hari saya coba berjalan ke terminal mengikuti transport umum ke danau Kaco. Lagi-lagi, masalah klasiknya adalah angkutan sangat susah ke sana, sehingga saya mencoba menawar dan deal di angka Rp 100 ribu, dan tebak, itu adalah angka termurah yang bisa saya dapatkan, setidaknya begitulah kata bapak yang punya angkot itu.

Kenalanlah saya dengan bapak itu, namanya Abang Pargito, dia keturunan Jawa Jambi. Bapak ini baik hati, dia mau-maunya mengantar saya ke Danau Kaco, padahal jaraknya luar biasa jauh, pantaslah dia menyebut angka Rp 100 ribu itu adalah yang paling murah, masuk akal jika kita merasakan perjalanan ke situ.

Perjalanan menuju ke sana hampir 2 jam kami tempuh, angkutan tidak ada yang mau mengantarkan sampai lokasi jika pake mobil. Ojek adalah pilihan cerdas dan tepat.

Perjalanan menuju ke danau Kaco sangat sulit karena jarang orang mau menuju kesana.
Akibatnya, saya yang nekat sendirian harus menerima akibatnya, nyasar entah ke mana walaupun akhirnya saya bisa balik lagi.

Itu pun dibantu dengan ada rombongan beberapa anak muda yang mau ke danau itu, yah, rejeki, saya ikut saja dengan rombongan.

Susahnya akses ke sana, sempat tersesat dan beberapa kendala lainnya seakan terhapus begitu saja kala kaki saya menginjakkan wilayah danau Kaco.

Danau Kaco begitu indah dan airnya biru, bohong jika siapapun yang sudah ke situ tidak terangsang untuk berenang, termasuk saya, lepas baju, dan biarkan tubuh ini ditenggelamkan di birunya air danau, ah, luar biasa!.

Berhubung saya merasa sudah lumayan lama di lokasi, saya jadi ingat bapak tadi, ada perasaan tidak enak juga meninggalkan bapak itu lama-lama menunggu saya, akhirnya saya memilih untuk kembali walaupun saya sudah ditawarkan untuk sejenak ngopi bareng dengan rombongan dari Pekanbaru.

Hampir 1 jam berjalan menuju tempat bapak Pargito menunggu.
“Lama sekali,” kata Pak Pargito sesaat setelah melihat saya.
Saya cerita kalau saya sempat nyasar dan bapak itu malah terbahak.
Sampai di hotel Jaya Wisata numpang mandi karena sudah check out siang. Tas saya titipkan di receptionis. Pukul 19.00 Wib naik travel menuju Jambi. Diperkirakan 7 jam perjalanan menuju ke Jambi dan tidur semalam di rumah kawan saya Eeng.

18 November

Pagi bangun dan malas-malasan di rumah kawan saya Eeng hingga packaging dan malamnya menyambung perjalanan ke Palembang.

Ko Engsun, abang kawan saya Eeng sengaja pulang cepat untuk mengajak saya mencoba empek-empek.
Dia menceritakan pengalaman hidupnya yang membuat saya terharu. Memang hidup adalah urusan menyayangi orang terdekat dan menjalani hidup dengan penuh perjuangan.

Setelah makan Ko Engsun memesan travel malam menuju ke Palembang sehingga saya bisa sampai pagi di pelabuhan dan bisa menyeberang ke Bangka.
Ko engsun membagikan rejeki yang luar biasa menurut saya.
“Dan ini bekal dalam perjalananmu,” sebutnya.
Saya sempat menolak akan tetapi dia memaksa.

Keluarga kawan saya ini sungguh baik, menerima saya di rumahnya saja sudah lebih dari cukup bagi saya, tapi saya mendapatkan lebih dari itu.

Selama ini saya hanya berkawan dengan Eeng akan tetapi saya diberikan Tuhan kesempatan utuk kenalan lebih dalam dengan keluarganya. Thanks God!. (*)

note :
Bus bukit tinggi- muara biluan jambi Rp 150.000
Muara biluan-simpang kawat kota jambi 20.000
Sewa sepeda di candi muaro jambi Rp 10.000

Perjalanan jambi ke gunung kerinci
Jambi-sungai penuh Rp 170.000 normal 130.000
Sungai penuh-kersi tik 15.000 angkot
Porter 250.000 perhari
Penginapan, pos pendakian gratis, makan

Pemandangan sunrise di puncak Kerinci 3805 mdpl.

Photo by Moonstar Simanjuntak